g Hasil dicatat di buku arsip pengiriman sampel rujukan, kemudian diserahkan kepada pasien sesuai waktu yang dijanjikan sebelumnya. 5. Pasien rujukan dari luar : a. Petugas pengantar sampel rujukan ( perujuk ) dari laboratorium atau rumah sakit lain melakukan pendaftaran di tempat pendaftaran pasien rawat inap ( TPPRI ). b. Salahsatu ruang atau instalasi layanan di rumah sakit adalah khusus untuk bayi. Ruangan NICU (Neonatal Intensive Care Unit) dan PICU (Pediatric Intensive C are Unit) adalah ruang perawatan intensif untuk bayi (sampai usia 28 hari) dan anak-anak yang memerlukan pengobatan dan perawatan khusus, guna mencegah dan mengobati terjadinya kegagalan Pelayananfarmasi di rumah sakit bertujuan antara lain untuk menjamin mutu, manfaat, kemananan serta khasiat sediaan farmasi dan alat kesehatan,menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian, melindungi pasien, masyarakat dan staf dari penggunaan obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien MenerapkanBudaya Patient Safety di Rumah Sakit. Mei 15, 2013 / in Warta Utama UAD / by webmaster. Dugaan malpraktek yang dilakukan petugas pelayanan kesehatan yang mengakibatkan pasien mengalami kerugian mulai dari materi, cacat fisik bahkan sampai meninggal dunia memperlihatkan masih rendahnya mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit. patient Pelayananyang dapat diberikan adalah : Tatalaksana kondisi Gawat Darurat Tindakan bedah minor, cth: pengangkatan kutil, lipoma, angkat kuku, jahit luka, dll Transportasi Ambulans 24 jam (Syarat dan ketentuan berlaku) Rawat observasi maks. 6 jam Konsultasi dr Umum 24 jam PelayananRumah Sakit Indonesia Harus Menjawab Era Industri 4.0. Pelayanan di sebuah rumah sakit di Kota Bogor, Jawa Barat. Revolusi industri 4.0 mendorong inovasi-inovasi teknologi dan pelayanan yang memberikan dampak disrupsi atau perubahan fundamental terhadap kehidupan masyarakat. Hal tersebut memberi tantangan bagi dunia industri tidak pelayananrumah sakit sifatnya sangat individualistik. Setiap pasien harus dipandang sebagai individu yang utuh, aspek fisik, aspek mental, aspek sosiokultur dan aspek spiritual harus mendapat perhatian penuh Azwar(1996) menyatakan bahwa rumah sakit di Indonesia jika ditinjau dari kemampuan yang dimiliki dibedakan menjadi lima macam, yaitu 3HmBt. Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit – Rumah sakit menjadi salah satu badan pelayanan umum dimana mewajibkan memiliki sebuah apa itu yang dinamakan dengan Standar Pelayanan Minimal SPM. Standar pelayanan minimal sendiri bisa dilihat dari tiga sudut pandang sudut pandang tersebut yaitu dari peraturan perundang-undangan, pelayanan kesehatan dan pelayanan rumah sakit sebagai pelayanan publik, serta sebagai konsekuensi dari perubahan kelembagaan rumah sakit menjadi badan layanan Pelayanan Minimal Rumah Sakit TerbaruStandar Pelayanan Minimal Rumah SakitKomponen Standar Pelayanan MinimalNah pada kesempatan kali ini akan menyampaikan sebuah informasi mengenai standar pelayanan minimal rumah sakit yang ada di Indonesia. Mungkin informasi ini bisa membantu dan menambah wawasan anda bahkan cukup penting untuk di pelayanan minimal sendiri nantinya akan diterapkan oleh peraturan perundang-undangan mengenai otonomi daerah. Sehingga nantinya bisa menjamin akuntabilitas daerah maka perlu di susunnya standar pelayanan minimal menjamin standar pelayanan minimal di bidang kesehatan maka dengan itu diterbitkan Kepmenkes Nomor 129 tahun 2008 tentang pedoman penetapan standar pelayanan minimal. Dengan begitu di setiap RS di Indonesia memiliki standar minimal yang harus di terapkan agar bisa menjadi badan layanan umum yang siap memberikan pelayanan terbaik terhadap warga Pelayanan Minimal Rumah SakitUntuk standar minimal pelayanannya sendiri sudah di jelaskan jika terdapat pada Kepmenkes Nomor 129 Tahun 2008 dimana mencantumkan jika mutu pelayanan dasar merupakan urusan wajib daerah dalam memberikan pelayanan yang di dapat oleh warganya. Nah untuk pelayanan minimal rumah sakit memiliki jenisnya sendiri-sendiri, berikut jenis pelayanan rumah sakit yang minimal wajib ada di rumah sakit meliputi sepertiPelayanan gawat rawat rawat laboratorium patologi rehabilitasi transfusi keluarga rekam administrasi mobil pemulasaraan pemeliharaan sarana rumah pengendalian Standar Pelayanan MinimalTidak hanya itu saja, dalam komponen sebuah Standar Pelayanan Minimal SPM, juga nantinya akan ada komponen lainnya yang akan memperlancar dan menjadi Standar Pelayanan Minimal tertentu. Nah komponen tersebut meliputiIndikator pencapaian Standar Pelayanan dari sisi lain seperti standar pelayanan yang sudah standar kebutuhan pelayanan dimana di sesuaikan dengan jenis Standar Pelayanan sebuah rencana pencapaian target Standar Pelayanan jawab kinerja Standar Pelayanan Minimal, dimana akan disesuaikan dengan jenis menentukan standar minimal RS ini nantinya kepala daerah juga ikut bertanggungjawab atas penyelenggaraan standar pelayanan minimal yang telah dikoordinasikan. Dimana nantinya juga di koordinasikan dengan dinas kesehatan untuk memastikan bahwa standar pelayanan minimal telah ditetapkan dan juga sudah berjalan seperti itu saja yang bisa sampaikan untuk anda mengenai standar minimal sebuah rumah sakit, selain itu dalam standar minimalnya juga perlu menentukan tipe rumah sakitnya. Semoga informasi mengenai standar pelayanan minimal RS ini bisa bermanfaat dan berguna bagi semua yang membutuhkannya atau sebagai tambahan pengetahuan saja. Pandemi COVID-19 sangat mempengaruhi sektor kesehatan di Indonesia, negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Salah satu dampak yang paling serius adalah tingginya angka infeksi dan kematian di kalangan tenaga kesehatan. Data terbaru dari Ikatan Dokter Indonesia menunjukkan setidaknya 718 petugas kesehatan meninggal akibat infeksi COVID-19, termasuk 325 dokter dan 324 perawat. Angka ini termasuk tertinggi di dunia. Yang lebih mengkhawatirkan adalah karena Indonesia memiliki jumlah tenaga kesehatan yang relatif rendah, yaitu rata-rata hanya tersedia 4 dokter dan 21 perawat per penduduk. Sebagai perbandingan, Malaysia memiliki 15 dokter dan 35 perawat, dan Singapura memiliki 23 dokter dan 62 perawat, per penduduk. Penelitian terbaru kami mengungkapkan adanya kesenjangan yang signifikan dalam jumlah dan mutu dari fasilitas dan layanan antar rumah sakit untuk perawatan COVID-19 yang mengakibatkan meningkatnya risiko bagi tenaga medis. Penyebab utama dari kondisi ini adalah kesenjangan dalam sumber daya finansial yang dimiliki oleh masing-masing rumah sakit. Penelitian kami Kami melakukan penelitian pada 11 rumah sakit di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sumatra Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Lima di antaranya merupakan rumah sakit rujukan COVID-19. Namun, seiring dengan jumlah infeksi yang melonjak, maka banyak rumah sakit non-rujukan juga harus merawat pasien COVID-19. Seorang petugas kesehatan menyiapkan ruang operasi untuk pasien COVID-19 di rumah sakit di Tulungagung, Jawa Timur. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/rwa. Sebagai bagian dari kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja K3, semua rumah sakit yang terlibat dalam penelitian kami telah menetapkan kebijakan, prosedur, mekanisme, dan persediaan peralatan untuk menangani infeksi COVID-19 guna memastikan keselamatan dan kesejahteraan tenaga kesehatan. Untuk itu rumah sakit membentuk unit Pencegahan dan Pengendalian Infeksi PPI dengan tugas utama untuk menangani penyakit menular di rumah sakit serta mengawasi penerapan protokol kesehatan terkait COVID-19. Unit PPI juga berfungsi untuk mengembangkan prosedur pencegahan, pengobatan dan rehabilitasi untuk dokter, perawat, pasien dan keluarga. Petugas kesehatan merawat pasien di rumah sakit darurat COVID-19 di Jakarta. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj. Penelitian kami menemukan kesenjangan yang signifikan dalam kuantitas dan kualitas fasilitas dan peralatan antara rumah sakit, baik di kalangan rumah sakit rujukan maupun non-rujukan. Sebagai contoh, tidak semua rumah sakit memiliki ruang isolasi khusus RIK dan unit perawatan intensif ICU yang dilengkapi dengan tekanan udara negatif, yang diperlukan dalam mencegah penyebaran virus. Beberapa rumah sakit tidak memiliki ventilator yang cukup dan tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk menguji pasien yang terinfeksi COVID-19. Dengan terbatasnya jumlah fasilitas untuk merawat pasien COVID-19, beberapa rumah sakit tidak mampu melakukan pengujian pada kondisi pasien secara akurat untuk merujuk mereka ke ruang perawatan yang sesuai. Masalah lain yang juga mengkhawatirkan adalah beberapa rumah sakit tidak memiliki persediaan alat pelindung diri APD yang cukup dengan kualitas yang memadai. Informasi yang kami dapatkan dari dokter dan petugas kesehatan mengungkapkan bahwa mereka terkadang harus memakai APD yang tidak memenuhi standar atau menggunakan ulang peralatan yang seharusnya sudah diganti. Beberapa dokter mengatakan bahwa mereka bahkan harus membeli APD sendiri karena rumah sakit tidak mampu untuk menyediakannya. Situasi ini meningkatkan potensi tenaga kesehatan terpapar virus, yang berakibat pada risiko kesehatan atau beban keuangan mereka. Masalah-masalah ini telah mengancam kesehatan fisik dan psikologis tenaga kesehatan yang juga membuat mereka berpotensi menularkan virus pada orang lain. Kegagalan mengikuti protokol kesehatan Setiap rumah sakit telah menetapkan protokol kesehatan untuk perawatan COVID-19 dalam pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja K3. Namun, penelitian kamu menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan pada tingkat kesadaran dan komitmen tenaga kesehatan dalam mematuhi protokol kesehatan. Salah satu sumber utama infeksi pada tenaga kesehatan di rumah sakit adalah penggunaan berbagai fasilitas bersama untuk staf, seperti ruang ganti, ruang makan, musala, lift, dan kamar mandi. Ada juga indikasi bahwa staf rumah sakit yang tidak berhubungan langsung dengan pasien COVID-19 kurang menganggap serius akan risiko tertular virus. Akibatnya tingkat kepatuhan mereka pada protokol kesehatan relatif rendah. Temuan kami juga menunjukkan bahwa sebagian besar infeksi di kalangan petugas kesehatan justru terjadi di luar tempat kerja, di mana kewaspadaan petugas terhadap virus menurun. Dampak bagi pekerja medis Studi kami juga menemukan banyak petugas kesehatan yang mengalami masalah kesehatan mental akibat beban kerja yang meningkat. Hal ini juga tercermin dalam temuan studi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang menunjukkan 83% tenaga kesehatan Indonesia menderita stres akibat kelelahan fisik dan mental di tempat kerja, terutama di rumah sakit dengan jumlah tenaga yang terbatas. Seorang petugas kesehatan memakai alat pelindung diri sebelum membagikan makanan untuk pasien COVID-19 di rumah sakit di Bandung, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/wsj. Beban mental yang dialami tenaga kesehatan meningkat saat mereka harus menangani pasien yang terinfeksi COVID-19 dan sebagian mereka mengalami trauma ketika menyaksikan kematian di antara pasien dan sesama rekan kerja mereka. Di sisi lain, sikap masyarakat dan stigma negatif terhadap mereka juga memperberat tekanan mental bagi para tenaga kesehatan. Hal ini dikarenakan banyak anggota masyarakat yang beranggapan bahwa para tenaga kesehatan ini kemungkinan besar tertular virus akibat interaksi mereka dengan pasien COVID-19. Sebagai dampaknya, banyak petugas kesehatan merasa terisolasi karena sebagian orang cenderung untuk menghindari interaksi sosial dengan mereka maupun keluarga mereka. Penelitian ini didanai oleh Pemerintah Australia melalui Australia-Indonesia Centre di bawah program PAIR The Australia Indonesia Centre mendukung The Conversation Indonesia dalam produksi artikel ini. Rumah sakit sebagai garda terdepan dalam menyediakan layanan kesehatan harus memberikan pelayanan terbaiknya. Namun, faktanya hampir seluruh rumah sakit di dunia mengalami masalah panjangnya waktu tunggu untuk mendapatkan layanan kesehatan. Meski begitu, digitalisasi dan perkembangan teknologi yang ada menghadirkan solusi untuk mengatasi hal tersebut dengan penggunaan sistem. Salah satunya Sistem Manajemen Rumah Sakit dari HashMicro untuk mengefisiensikan pengelolaan administrasi dan pelayanan rumah sakit dengan satu sistem terintegrasi. Untuk mengetahui lebih lanjut, unduh skema perhitungan harga Software Rumah Sakit dari HashMicro. Masih sering kita dengar kabar mengenai permasalahan pasien yang menunggu lama karena pengelolaan administrasi rumah sakit yang berbelit-belit. Hal ini tentu akan merugikan untuk pasien maupun rumah sakit sebagai penyedia fasilitas kesehatan. Untuk mengetahui lebih lanjut apa saja yang menyebabkan terjadinya hal tersebut dan bagaimana solusi mengatasinya, simak artikel berikut ini. Baca Juga Manfaat Utama Sistem ERP Kesehatan Mengidentifikasi Permasalahan Pelayanan Rumah Sakit yang Terlalu Lama Menurut survei yang dilakukan The Malay Mail, pada tahun 2017 terdapat statistik mengejutkan yang berasal dari persepsi masyarakat mengenai masa tunggu pelayanan rumah sakit. Tercatat, 26% responden menyayangkan proses pelayanan rumah sakit yang terlalu lama. Kompleksnya kegiatan manajemen rumah sakit, telah menghadirkan banyak tantangan yang harus dihadapi oleh pengelola rumah sakit saat memberikan pelayanan terbaik untuk pasien. Tidak jarang, banyak rumah sakit yang mengalami kesulitan dalam mengelola berbagai kegiatan operasionalnya karena masih menggunakan sistem rumah sakit yang konvensional. Hal tersebut tentu akan menghambat proses pengurusan administrasi rumah sakit yang mengakibatkan pelayanan menjadi kurang maksimal. Selain itu, masih banyak rumah sakit yang tidak merangkul Software Manajemen Rumah Sakit dalam menjalankan aktivitasnya. Berikut ini adalah beberapa permasalahan umum terjadinya permasalahan pada pelayanan rumah sakit Pengolahan data masih manual Mengingat pasien yang selalu berdatangan setiap saat, rumah sakit sebagai penyedia layanan kesehatan haruslah menjadi garda terdepan dalam memberikan pelayanan terbaik untuk pasien. Akan menjadi sulit apabila pengolahan datanya dilakukan secara manual setiap harinya. Sayangnya masih banyak rumah sakit yang melakukannya secara manual. Apabila hal ini terus dibiarkan, akan sangat berbahaya bagi keberlangsungan rumah sakit yang harus secara sigap memberikan pelayanan kepada pasien. Data antar departemen tidak terintegrasi Setiap Rumah Sakit tentu memiliki beberapa departemen yang menangani urusan yang berbeda. Berbagai perbedaan urusan yang ditangani oleh setiap perbedaan tentu akan menyulitkan pihak manajemen untuk menggabungkan datanya. Data yang ter-input ke dalam manajemen haruslah tersinkron dan terintegrasi satu sama lain. Dengan begitu, pelayanan rumah sakit menjadi lebih cepat dan optimal. Risiko data hilang Berbagai proses administrasi rumah sakit yang berbelit-belit dan manual tentu akan meningkatkan risiko terjadinya kehilangan data. Berbagai dokumen kertas mulai dari rekam medis, resep dokter dan lainnya tentu akan membutuhkan gudang yang besar untuk menyimpannya dan juga waktu yang panjang dalam mencarinya. Hal ini menjadi salah satu penyebab mengapa pelayanan rumah sakit menjadi lambat. Karena masih banyaknya dokumen yang bersifat paper-based. Format laporan RS yang kaku Telah banyak rumah sakit yang telah berdiri sejak lama sebagai garda terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan. Telah banyak rumah sakit tersebut, yang sudah meninggalkan cara konvensional dalam membuat pelaporannya. Format pelaporan rumah sakit yang kaku tentu akan menyulitkan proses administrasi karena pembuatannya secara manual. Hal ini tentu akan menghambat proses migrasi data dari satu departemen ke departemen lainnya. Pada akhirnya, hal tersebut juga akan menghambat pelayanan rumah sakit. Baca Juga Manfaat Software Rumah Sakit untuk Digitalisasi Pelayanan Kesehatan Penggunaan Software Rumah Sakit untuk Mempermudah Pengelolaan Rumah Sakit Lengkapi Form Berikut Ini dan Dapatkan Demo Software HashMicro GRATIS! Seiring dengan berkembangnya teknologi, berbagai pengembangan sistem informasi hadir untuk memberikan layanan terbaik bagi pasien. Saat ini, telah muncul berbagai Sistem Informasi Rumah Sakit SIMRS untuk membantu mendukung berbagai alur kerja rumah sakit yang berkaitan dengan pelayanan rumah sakit dan informasi pasien dalam cara yang mudah dan efisien. SIRS menjadi garda terdepan dalam memberikan saran komunikasi yang berkualitas antar departemen di rumah sakit. Dengan hadirnya SIRS, kini berbagai rumah sakit telah terbantu untuk mendigitalisasi berbagai kegiatan. HashMicro sebagai salah satu penyedia layanan ERP terbaik di Indonesia dan Singapura, telah mengembangkan Software Rumah Sakit sebagai solusi modern dalam mengatasi berbagai tantangan dalam pemberian layanan kesehatan saat ini. Berikut ini adalah beberapa fitur dan manfaat Sistem Informasi Rumah Sakit dari HashMicro yang dapat menjadi solusi pengelolaan pelayanan rumah sakit, antara lain Billing system Dengan adanya fitur billing system memastikan rumah sakit memiliki sistem keuangan dan akuntansi yang terpadu dalam mengelola berbagai kegiatan keuangan dari seluruh departemen. Fitur ini tentu dapat memudahkan para manajemen dalam mengelola seluruh transaksi atau pencatatan secara real-time dan akurat. Selain itu, seluruh arus kas akan tercatat secara otomatis dalam mekanisme pembukuan sehingga dapat mempermudah pembuatan laporan keuangan. Medical record Himpun seluruh rekam medis pasien dalam sebuah platform online yang sudah tersimpan aman dalam server cloud terintegrasi yang terintegrasi manajemen database PostgreSQL, yang menjamin keamanan dan kinerja data secara efisien yang dapat diskalakan untuk banyak pengguna secara bersamaan. Fitur ini akan mengurangi risiko kehilangan data dan terjadi duplikasi rekam medis pasien. Clinical management database Tingkatkan pelayanan pasien dalam sebuah database yang terhubung dengan dokter melalui platform yang aman dan mudah digunakan. Fitur ini akan memastikan rumah sakit untuk meningkatkan fokusnya dalam memberikan perawatan dan hasil klinis yang maksimal kepada pasien. Selain itu, dokter dan rumah sakit dapat melihat bagaimana proses penanganan pasien secara terpadu dalam sebuah dasbor yang terpadu. Inventory management Otomatis Akan seluruh pengelolaan inventaris rumah sakit untuk mengoptimalkan persediaan dan informasi terkait jumlah kamar, stok obat-obatan dan seluruh kebutuhan rumah sakit. Fitur ini akan memastikan seluruh perpindahan stok dari satu departemen ke departemen lainnya dapat terlacak secara otomatis. Hal ini tentu akan mempermudah rumah sakit dalam mengelola inventarisnya secara optimal dan efisien. Manajemen administrasi Permudah seluruh kegiatan administrasi dengan menggunakan fitur manajemen administrasi mulai dari pendaftaran pasien, pencarian pasien rawat inap, monitor antrian pasien, rujukan BPJS, pengelolaan asuransi dan kegiatan administrasi lainnya. Permudah koordinasi dan kolaborasi antar departemen dalam sebuah manajemen administrasi yang terpadu agar setiap pegawai dari antar tim dapat berkomunikasi secara real-time dan terpusat. Baca Juga Mengenal Pentingnya SIMRS bagi Pelayanan Rumah Sakit Kesimpulan Berbagai kemudahan akan Anda dapatkan setelah mengimplementasikan software rumah sakit. Pemanfaatan sistem informasi rumah sakit tentu akan mempermudah pihak manajemen rumah sakit dalam mengelolanya, termasuk pelayanan rumah sakit. Segera tinggalkan kegiatan manajemen rumah sakit yang konvensional dan beralih menggunakan Software Rumah Sakit terbaik untuk mendigitalisasikannya. Solusi Software Rumah Sakit dari HashMicro telah terintegrasi dengan berbagai modul penunjang seperti sistem akuntansi, manajemen inventory, manajemen aset, procurement dan sistem lainnya. Sehingga seluruh data, baik medis maupun non-medis dapat terkendali dan terolah secara akurat dan tepat. Untuk mengetahui besar pengeluaran saat mengimplementasikannya, Anda dapat mengunduh skema perhitungan harga Software Rumah Sakit terlebih dahulu. Segera jadwalkan demo dan rasakan manfaatnya! Tertarik Mendapatkan Tips Cerdas Untuk Meningkatkan Efisiensi Bisnis Anda? Jessica Wijaya writer with a passion for business, technology and innovation. Always writing with the goal of creating thought provoking contents that are helpful for the masses. Standar Pelayanan Minimal Rumah SakitStandar pelayanan minimal Rumah Sakit adalah ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar Rumah Sakit yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal. Juga merupakan spesifikasi teknis tentang tolak ukur pelayanan minimum yang diberikan oleh Rumah Sakit kepada ini diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah – jenis pelayanan rumah sakit yang minimal wajib disediakan oleh rumah sakit meliputiPelayanan gawat daruratPelayanan rawat jalanPelayanan rawat inapPelayanan bedahPelayanan persalinan dan perinatologyPelayanan intensifPelayanan radiologiPelayanan laboratorium patologi klinikPelayanan rehabilitasi medikPelayanan farmasiPelayanan giziPelayanan transfusi darahPelayanan keluarga miskinPelayanan rekam medisPengelolaan limbahPelayanan administrasi manajemenPelayanan ambulans/kereta jenazahPelayanan pemulasaraan jenazahPelayanan laundryPelayanan pemeliharaan sarana rumah sakitPencegah Pengendalian InfeksiBerikut penjelasan masing-masing jenis pelayanan tersebut1. Pelayanan gawat daruratStandar pelayanan minimal Rumah Sakit terkait pelayanan gawat darurat adalahNoIndikatorStandar1Kemampuan menangani life saving anak dan dewasa100%2Jam buka pelayanan gawat darurat24 jam3Pemberi pelayanan gawat darurat yang bersertifikat yang masih berlaku BLS/PPGD/GELS/ALS/BTCLS100%4Ketersediaan tim penanggulangan bencanaSatu tim5Waktu tanggap pelayanan dokter di gawat darurat 70%7Kematian pasien 90% diagnosis TB melalui pemeriksaan mikroskop TB> 60% kegiatan pencatatan dan pelaporan TB di RS> 60%3. Pelayanan rawat inapStandar pelayanan minimal Rumah Sakit terkait pelayanan rawat inap adalahNoIndikatorStandar1Pemberi pelayanan di Rawat Inap1. Dokter Spesialis2. Perawat minimal Pendidikan D32Dokter penanggungjawab pasien rawat inap100%3Ketersediaan pelayanan rawat inapAnakPenyakit dalamKebidananBedah4Jam visit dokter s/d setiap hari kerja5Kejadian infeksi pasca operasi 48 jam 90% inap TB Penegakkan diagnosis TB melalui pemeriksaan mikroskop TB> 60% inap TB Terlaksananya kegiatan pencatatan dan pelaporan TB di RS> 60%12Ketersediaan pelayanan rawat inap di rumah sakit yang memberikan pelayanan jiwa1. NAPZA2. Gangguan psikotik3. Gangguan nerotik4. Gangguan mental organik13Tidak adanya kejadian kematian pasien gangguan jiwa karena bunuh diri100%14Kejadian re-admission pasien gangguan jiwa dalam waktu £ 1 bulan100%15Lama hari perawatan pasien gangguan jiwa 80%6. Pelayanan intensifStandar pelayanan minimal Rumah Sakit terkait pelayanan intensif adalahNoIndikatorStandar1Rata-rata pasien yang Kembali ke perawatan intensif dengan kasus yang sama 80%8. Pelayanan laboratorium patologi klinikStandar pelayanan minimal Rumah Sakit terkait pelayanan laboratorium patologi klinik adalahNoIndikatorStandar1Waktu tunggu hasil pelayanan laboratorium 80%9. Pelayanan rehabilitasi medikStandar pelayanan minimal Rumah Sakit terkait pelayanan rehabilitasi medik adalahNoIndikatorStandar1Kejadian drop out pasien terhadap pelayanan rehabilitasi medik yang direncanakan 80%10. Pelayanan farmasiStandar pelayanan minimal Rumah Sakit terkait pelayanan farmasi adalah tunggu pelayanan obat jadi 80%4Penulisan resep sesuai formularium100%11. Pelayanan giziStandar pelayanan minimal Rumah Sakit terkait pelayanan gizi adalahNoIndikatorStandar1Ketepatan waktu pemberian makanan kepada pasien> 90%2Sisa makanan yang tidak termakan oleh pasien 60%6Cost recovery> 40%7Ketepatan waktu penyusunan laporan keuangan100%8Kecepatan waktu pemberian informasi tentang tagihan pasien rawat inap< 2 jam9Ketepatan waktu pemberian imbalan insentif sesuai kesepakatan waktu100%17. Pelayanan ambulans/kereta jenazahStandar pelayanan ambulans/kereja jenazah adalahNoIndikatorStandar1Waktu pelayanan ambulance/kereta jenazah24 jam2Kecepatan memberikan pelayanan ambulance/kereta jenazah di rumah sakit< 230 menit3Response time pelayanan ambulance oleh masyarakat yang membutuhkan? sesuai ketentuan daerah ?18. Pelayanan pemulasaraan jenazahStandar pelayanan pemulasaraan jenazah adalahNoIndikatorStandar1Waktu tanggap response time pelayanan pemulasaraan jenazah< 2 jam19. Pelayanan laundryStandar pelayanan laundry adalahNoIndikatorStandar1Tidak adanya kejadian linen yang hilang100%2Ketepatan waktu penyediaan linen untuk ruang rawat inap100%20. Pelayanan pemeliharaan sarana rumah sakitStandar pelayanan pemeliharaan Rumah Sakit adalahNoIndikatorStandar1Kecepatan waktu menanggapi kerusakan alat< 80%2Ketepatan waktu pemeliharaan alat100%3Peralatan laboratorium dan alat ukur yang digunakan dalam pelayanan terkalibrasi tepat waktu sesuai dengan ketentuan kalibrasi100%21. Pencegah Pengendalian InfeksiStandar pelayanan pengendalian infeksi adalahNoIndikatorStandar1Ada anggota tim PPI yang terlatihAnggota tim PPI yang terlatih 75%2Tersedia APD di setiap instalasi/departemen60%3Kegiatan pencatatan dan pelaporan infeksi nosokomial/HAI health care associated infection di RS min 1 parameter75%SumberKeputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit

pelayanan di rumah sakit